Pengalaman Mengatasi Anak Tantrum Tanpa Panik

 

anak tantrum
Photo by Marcos Paulo Prado on Unsplash

Menurut Wikipedia, tantrum adalah ledakan emosi yang biasa terjadi pada anak-anak atau bahkan pada orang dewasa. Biasanya ditandai dengan menangis kencang, guling-guling, membangkang, hingga berteriak. Tantrum sebenarnya umum sekali terjadi pada anak-anak. Hampir semua anak mengalaminya. Tapi, cara kita menangani anak tantrum sangat berpengaruh pada kondisi emosinya nanti.

Biasanya, anak menjadi tantrum karena ingin mendapatkan perhatian dari kita sebagai orang tua. Misalnya, nih ada anak minta Kinder Joy yang diletakkan di depan meja kasir supermarket. Trik pemasarannya memang cerdas banget, ya...hehe. Akhirnya dia guling-guling memaksa orang tuanya menuruti. Orang tuanya panik. Mau marah, tapi malu di depan umum. Banyak yang melihat dan memerhatikan. Tapi, mau menuruti juga berat. Melihat anaknya sampai histeris, akhirnya dituruti juga daripada malu. Dan, drama pun dimulai.

Sejak kejadian itu, anak akan menghalalkan segala cara untuk mengancam kita supaya semua keinginannya dituruti. Mereka itu pintar. Mereka cerdas. Tahu kapan kita nggak bisa menolak. Tahu kapan kita akan menuruti permintaannya.

Keponakan saya misalnya, karena sekali dua kali permintaannya yang penuh drama dituruti, akhirnya dia menggunakan cara tersebut untuk mendapatkan apa yang dia inginkan. Kalau sedang ada tamu di rumah, dia guling-guling nangis minta ke toko dan membeli camilan.

Sudah menjadi rutinitas. Bahkan saat di jalan, saat naik motor, dia bisa berontak kalau permintaannya nggak dituruti. Ibu saya pun bilang, dia pernah menangis di sekolah dan meminta mainan, sampai jilbab Ibu digilas-gilas di tanah. Nyesek banget dengernya. Nggak seharusnya drama tantrum kayak gini berkepanjangan.

“Tapi, kalau nggak dituruti dia kayak gitu. Bikin bahaya apalagi pas naik motor.” Kata Ibu.

Justru karena selalu dituruti itulah dia jadi semakin heboh tiap minta apa-apa. Dia tahu, dengan cara seperti itu permintaannya nggak akan ditolak. Sebelum kita membahas cara mengatasi anak tantrum tanpa panik, ada baiknya kita mengetahui jenis tantrum yang terjadi pada anak-anak,

1. Tantrum Manipulatif

Tantrum manipulatif terjadi karena ada keinginan yang tidak dipenuhi. Seperti yang terjadi pada keponakan saya. Tantrum manipulatif sengaja dibuat oleh anak-anak karena keinginannya ditolak. Demi mendapatkan apa yang diinginkan, dia menangis, berontak, berteriak, sampai berbuat kasar.

2. Tantrum Frustasi

Tantrum frustasi biasa terjadi karena si anak nggak bisa menyampaikan keinginannya dengan baik. Misalnya saja tantrum yang terjadi pada anak usia 18 bulan yang belum bisa mengatakan keinginannya. Tantrum frustasi juga bisa terjadi karena kondisi terlalu lapar, lelah, hingga gagal melakukan sesuatu.

Pasti pernah mengalami dong ketika ada anak usia di bawah 2 tahun yang menangis karena gagal memasang lego? Dia pengen ngusun lego dengan rapi, tapi malah jatuh dan jatuh. Atau ada anak yang terlalu ngantuk serta lelah, jadinya rewel dan menangis terus menerus. Kondisi kayak gini bisa disebut tantrum frustasi.

Penyebab Anak Tantrum

Tantrum
Photo by Tanaphong Toochinda on Unsplash

Setelah tahu jenis-jenis tantrum, kita bisa menyimpulkan penyebab tantrum itu apa saja. Kita bisa memperkirakan sebab apa yang membuat anak begitu rewel dan menangis terus menerus. Bisa jadi karena dia menginginkan sesuatu, tapi nggak bisa menyampaikan dengan baik karena usianya yang masih terlalu kecil atau bisa jadi karena dia sedang mengancam orang tua supaya permintaannya dituruti.

Beberapa sebab di atas bisa terjadi pada anak-anak kita. Pernah juga terjadi pada anak-anak saya, kok. Meskipun hampir semua orang bilang si sulung sama si bungsu termasuk yang adem ayem dan jarang drama kalau pengen sesuatu, tapi, tetap saja ada kejadian yang pernah kami alami bareng dan kita belajar banyak setelahnya.

Cara Mengatasi Tantrum

tantrum
Photo by Kelly Sikkema on Unsplash

Dulu, baik si kakak ataupun si adek pernah ada masanya minta sesuatu sambil nangis-nangis. Si kakak misalnya, pernah menabung untuk membeli mobil remot. Tapi, waktu kami ke pasar, tanpa sengaja dia melihat toko penjual mainan, salah satunya ada mobil remot! Dia macet di tengah jalan dan nggak mau bergerak. Saya sudah membaca bahasa tubuhnya. Dia mulai menangis, tapi saya ingatkan lagi bahwa uang tabungannya belum cukup untuk membeli mainan. Dia hampir mau guling-guling di lantai. Tapi, saya kuatkan hati dan tidak serta merta menuruti keinginannya. Nggak boleh malu walaupun dilihat banyak orang selama kita nggak berbuat aneh-aneh, nggak kasar sama anak atau membentak. Kalem, slow, jangan panik.

Akhirnya saya minta kakak pulang dulu untuk menghitung uangnya. Jika uangnya cukup, kita kembali untuk membeli mobilnya. Tapi, kalau nggak cukup, harus sabar dong dan menabung lagi.

Akhirnya dia mau pulang dan membuka celengannya. Seperti yang saya perkirakan, uangnya memang belum cukup. Kita nggak kembali ke pasar dan dia menabung lagi dengan sabar.

“Ya ampun, kenapa sih nggak dituruti aja? Cuma mobil remot aja kenapa nggak dibeliin? Kasihan kan anak udah pengen?”

Sekali kita turuti, kedua hingga seterusnya bisa saja dia melakukan hal yang sama demi mendapatkan apa yang diinginkan. Jangan sampai kita jadi susah sendiri karena salah bereaksi ketika anak tantrum. Jangan sampai kita rempong gara-gara nggak sabar menenangkan si anak. Itulah kenapa konsistensi kita sebagai orang tua itu penting banget.

Saat ke supermarket misalnya, sebelum berangkat anak-anak sudah berjanji hanya membeli permen. Tapi, sampai di supermarket, mereka bukan hanya melihat permen, tapi ada es krim, ada mainan banyak banget di pajang di dekat meja kasir. Di sini ketenangan kita diuji.

Saat anak mulai pegang-pegang mainan, saya nggak nuduh mereka minta mainan itu. Karena biasanya kalau si kakak cuma melihat saja, katanya nggak beli, kok. Kan, sejak awal sudah janji hanya beli permen, jadi kita harus percaya bahwa mereka punya komitmen dengan janji itu. Jangan bilang, “Eh, tadi janjinya beli apa malah lihat apa.” Nggak begitu menurut saya.

“Wah, bagus ya mainannya. Kakak boleh lihat, ya.”

Ternyata, karena saya sering banget bilang begitu, dia jadi pinter ngajarin adeknya sendiri...hehe. Pas si bungsu lihat kakaknya pegang mainan dan bilang aku beli yang mana, ya? Si kakak langsung nyeletuk, “Kakak cuma lihat, kok. Kan kita ke sini bukan buat beli mainan.” Adeknya nurut dong sama si kakak :D

Masya Allah tabarakallah, meski kadang tetap ada ngambeknya kalau ada keinginan nggak dituruti, tapi mereka nggak sampai tantrum. Apalagi sampai melakukan hal-hal di luar pikiran kita. Misalnya ada anak pengen sandal baru, tapi sandalnya masih bagus, dia rela menggunting sandalnya supaya dapat yang baru. Idenya agak gimana ya buat anak usia SD. Dan ini real memang terjadi.

So, apa yang mesti kita lakukan supaya nggak panik saat menangani anak tantrum?

  • Tetap Tenang dan Jangan Panik

Biasanya, kita cenderung panik saat menangani anak tantrum manipulatif. Tenang, kita mesti bisa mengendalikan keadaan. Bukan anak yang mengendalikan kita. Saat anak mulai menangis dan berteriak, jangan balas berteriak apalagi membentak. Karena kondisi kayak gini bisa memperburuk keadaan. Nggak lucu juga dilihatin banyak orang dan tentu saja nggak bagus buat kondisi anak-anak.

Coba tarik napas dan tetap bicara pelan-pelan aja. Kita juga nggak perlu berbohong demi menenangkan mereka. Berbohong hanya membuat masalah reda sesaat saja, nanti dia menagih dan mengulang hal yang sama. Bahkan bisa jadi lebih parah.

  • Tenangkan Anak dan Berilah Dia Pelukan

Kita bisa memeluknya. Jangan burur-buru menasihati. Jangan buru-buru berkata bijak apalagi sambil ceramah. Kadang, mereka butuh menenangkan diri. Kita cukup memeluknya dan membiarkan dia tenang sesaat.

Setelah kondisinya bisa dikendalikan, kita bisa mengajaknya bicara baik-baik, kenapa kita belum mau menuruti keinginannya.

  • Konsisten

Kalau sekarang bilang nggak, besok pun harus tetap nggak boleh. Jangan plin plan jadi orang tua, karena itu bisa membuat si kecil jadi bingung. Hari ini boleh makan es krim, eh besok nggak boleh. Kalau kita bilang dia boleh beli mainan dengan uang tabungannya, jangan sampai besok kita mengeluarkan uang untuk membelikannya mainan. Akhirnya anak jadi bingung sendiri dan nggak bisa konsisten dengan janjinya.

  • Membeli Ketika Butuh

“Kak, kamu masih punya mainan kayak gini di rumah, lho. Masa mau beli lagi?”

Kalau nggak butuh, jangan dibiasakan membeli barang. Buat saya juga penting. Apa yang kamu butuhkan, ya udah itu yang bisa kamu beli. Kalau di rumah udah ada mobil-mobilan, nggak perlu membeli lagi. Kecuali mobilnya udah rusak. Dengan cara seperti ini, anak juga belajar nggak terlalu konsumtif. Nggak seenaknya membeli barang dan minta pada orang tua.

Begitu juga dengan kita sebagai contoh bagi mereka. Anak-anak melihat bagaimana kita menghabiskan uang. Buat apa dan demi apa? Jangan sampai kita begitu boros membeli ini dan itu, bahkan barang yang tidak perlu, sedangkan anak-anak diminta berhemat. Rasanya sangat tidak adil.

Saat ingin membeli buku misalnya, anak-anak terbiasa menabung dulu. Nggak seenaknya minta dibelikan. Sedangkan saya? Harus menabung juga dan mencari harga terbaik alias nyari harga diskon dan termurah :D

Salah seorang teman saya berbagi tips mendapatkan buku anak murah. Sangat bermanfaat buat kita yang ingin berhemat, tapi tetap dapat buku berkualitas :)

Itulah beberapa cara yang saya terapkan kepada anak-anak. Bahkan ketika anak-anak diajak jajan sama kakeknya, mereka membeli secukupnya atau malah ditawarin ini itu nggak mau beli. Sempat kejadian waktu kami pulang kampung dan kakeknya heran kok bisa ada anak nggak mau jajan padahal udah ditawarin ini itu :D

Jadi orang tua memang butuh belajar. Terutama saat punya anak pertama. Kayaknya masih banyak trial dan error-nya. Tapi, jangan takut, tetap lakukan yang terbaik versi kita dengan tetap update ilmu, ya.

Salam hangat,


0 comments